4 Masalah Media di Indonesia Versi AJI

Reporter

Pemimpin Redaksi majalah Tempo, Arif Zulkifli (2kanan), bersama Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Yadi Hendriana (kanan), ketua umum AJI Indonesia, Suwarjono dan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Pers, Nawawi Bahruddin (kiri), beri pernyataan sikap bersama di Gedung Dewan Pers, Jakarta, 5 Maret 2015. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Malang - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menilai ada empat masalah dalam dunia pers Indonesia. Keempat masalah tersebut adalah dominasi kepemilikan, media partisan, media yang tak mendidik dengan menyajikan materi berbau pornografi, dan menjamurnya media abal-abal.

"Media di Indonesia hanya dimiliki 13 kelompok media," kata Ketua Umum AJI Indonesia, Suwarjono dalam Kongres Luar Biasa Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) , Jumat 17 April 2015.

Dominasi kepemilikan media menjadi persoalan lantaran materi media massa seragam sesuai dengan kepentingan dan kemauan kelompok media bersangkutan. Untuk itu, AJI mendorong munculnya diversifikasi media atau memperkuat media lokal. Media local diharapkan menjadi penyeimbang di luar kelompok media yang telah ada.

Selain itu, kepemilikan media oleh pengurus partai politik menyebabkan media menjadi partisan. Akibatnya media arus utama terkesan berpihak terhadap kepentingan kelompok atau partai politik tertentu. Ruang redaksi dikontrol pemilik, media menjadi pendukung partai tertentu. "Pers tak kritis, tak sesuai dengan fungsi pers. Kebebasan pers justru menyebabkan kemunduran," kata Suwarjono.

Selain itu, juga menggejala munculnya media yang menyajikan pornografi dan mistis. Materi pemberitaan yang tak bermutu tersebut hadir di setiap saat.

Sementara jurnalis dan media abal-abal juga menyebabkan masalah pelanggaran kode etik. Tak jarang terjadi tindakan kriminalitas, jurnalis abal-abal melakukan pemerasan. "Ini bentuk malpraktik di media," ujar Suwarjono.

Persoalan tersebut menjadi perhatian serius oleh organisasi pers, perusahaan pers, dan Dewan Pers. Untuk mengurai masalah tersebut, Suwarjono menyarankan digalakkan literasi media kepada publik. AJI juga mengajak masyarakat kritis terhadap media, melapor jika ada media yang malpraktik. Jika pelanggaran dilakukan media siaran bisa dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pers.

"Jangan lihat, baca atau dengarkan media yang tak mendidik," ujar Suwarjono. Sedangkan jika ada jurnalis yang melakukan tidak pidana seperti pemerasan agar dilaporkan ke aparat penegak hukum.

AJI Indonesia juga meningkatkan mutu jurnalisme dengan melakukan pelatihan keterampilan dan penegakan etik. Salah satunya melalui uji kompetensi jurnalis.

EKO WIDIANTO






Suara Keras Azyumardi Azra Soal TWK Pegawai KPK hingga Megawati di BRIN

13 hari lalu

Suara Keras Azyumardi Azra Soal TWK Pegawai KPK hingga Megawati di BRIN

Pemikiran Prof Azyumardi Azra terhadap banyak persoalan di Tanah Air, kerap membuatnya harus bersuara lantang. Misalkan soal TWK dan BRIN.


Kemenkumham Bakal Masukan Klausul Baru di RKUHP Cegah Pembungkaman Pers

35 hari lalu

Kemenkumham Bakal Masukan Klausul Baru di RKUHP Cegah Pembungkaman Pers

Kemenkumham menegaskan bahwa di dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) sama sekali tidak menyinggung adanya tindak pidana pers.


Indeks Kemerdekaan Pers Nasional Meningkat, Ketua Dewan Pers: Jangan Puas Dulu

39 hari lalu

Indeks Kemerdekaan Pers Nasional Meningkat, Ketua Dewan Pers: Jangan Puas Dulu

Indeks Kemerdekaan Pers Nasional meningkat, namun Ketua Dewan Pers berpesan agar jangan berpuas diri.


18 Jurnalis Meksiko Dibunuh Tahun Ini, Sebagian Terkait Pemberitaan

45 hari lalu

18 Jurnalis Meksiko Dibunuh Tahun Ini, Sebagian Terkait Pemberitaan

Tahun ini menjadi catatan terburuk bagi dunia jusnalisme di Meksiko. Sampai Agustus, sudah 18 wartawan tewas dibunuh


Diberitakan Ditangkap, Bambang Widjojanto Ajukan Hak Koreksi ke Poskota

53 hari lalu

Diberitakan Ditangkap, Bambang Widjojanto Ajukan Hak Koreksi ke Poskota

Bambang Widjojanto membantah ditangkap polisi seperti yang diberitakan Poskota.co.id


Turki Blokir Akses VOA dan Deutsche Welle, Erdogan Makin Represif?

1 Juli 2022

Turki Blokir Akses VOA dan Deutsche Welle, Erdogan Makin Represif?

Turki memblokir akses ke Voice of America yang berbasis di AS dan radio Jerman Deutsche Welle karena tidak mengajukan lisensi.


Azyumardi Azra: Kami Ingin Dewan Pers Jadi Mitra Kritis Pemerintah

4 Juni 2022

Azyumardi Azra: Kami Ingin Dewan Pers Jadi Mitra Kritis Pemerintah

Ketua Dewan Pers, Azyumardi Azra, berharap lembaganya bisa menjadi mitra kritis pemerintah.


Seabad Rosihan Anwar: Tokoh Pers, Sejarawan, Kritikus Film

11 Mei 2022

Seabad Rosihan Anwar: Tokoh Pers, Sejarawan, Kritikus Film

Seabad Rosihan Anwar mengenang kiprah penerima Bintang Mahaputera III, tokoh pers, sejarawan, hingga kritikus film ini.


Rektor IAIN Ambon Bredel Pers Kampus

17 Maret 2022

Rektor IAIN Ambon Bredel Pers Kampus

Rektor Institut Agama Islam Negeri atau IAIN Ambon membredel pers mahasiswa Lintas setelah media itu memberitakan dugaan kasus kekerasan seksual


Hari Pers Nasional, Anies Baswedan: Terima Kasih Sudah Menjaga Proses Demokrasi

10 Februari 2022

Hari Pers Nasional, Anies Baswedan: Terima Kasih Sudah Menjaga Proses Demokrasi

"Apresiasi dan terima kasih kepada insan pers, yang terus menjaga proses demokrasi kita," ujar Anies Baswedan melalui media sosial pribadinya