Semesta Raya dalam Imajinasi Sidik W. Martowidjojo  

Selasa, 26 Maret 2013 | 19:54 WIB
Semesta Raya dalam Imajinasi Sidik W. Martowidjojo  
Sebuah lentera berbentuk ular terlihat di antara dekorasi tahun baru Cina di Yuyuan Garden, Shanghai, Cina, Senin (4/2). Tahun baru Cina yang juga dikenal sebagai festival musim semi dimulai pada 10 Februari dan menandai awal tahun Ular, menurut penanggalan Cina. REUTERS/Carlos Barria

TEMPO.CO, Jakarta - Pameran tunggal Sidik W. Martowidjojo, di gedung Arsip Nasional, Jalan Gajahmada, Jakarta, digelar sejak 23 Maret sampai 29 Maret 2013. Lukisannya mendapat pengakuan dan penghargaan dari seniman Cina.

Ada 76 lukisan bergaya Chinese painting (Guo Hua) dengan tema "Jembatan Emas Seni Rupa Indonesia-Cina". Ini merupakan karya Sidik pada 2008 hingga tahun ini.

Terbagi dalam tiga tema, Lansekap, Bunga, dan Satwa. Meski begitu, hanya sekitar 40 yang bisa ditampilkan karena keterbatasan tempat. Karya Sidik yang lain dipamerkan di Grand Kebun Sirih Lantai 10, Jl Kebun Sirih No 35. Jakarta Pusat.

Keunikan karya Sidik terletak pada pemakaian media kertas beras, tinta Cina, dan cat air. Dalam membuat karya, ia melakukan dalam satu waktu, bukan dicicil dalam periode waktu tertentu.



“Hasilnya akan beda kalau diulang pada keesokan harinya. Jadi saya harus membuat dalam satu hari,” kata Sidik yang selain membuat obyek dari goresan terperinci, juga mengandalkan spontanitas dalam karyanya. Selain menampilkan keindahan bunga, panorama dan satwa, karya Sidik kuat dalam menampilkan keindahan alam semesta.

Dalam pengantar kuratorial dari Eddy Soetriyono, kiprah Sidik atau yang memiliki nama lain Ma Yong Qiang ini memiliki jalan panjang. Bermula saat dikeluarkannya Peraturan Presiden No 6 Tahun 2000, saat diperbolehkannya ekspresi kebudayaan Cina tampil kembali di Indonesia setelah sempat dilarang pada 1967 sampai era Reformasi pada 1998.

Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, tahun 1937 ini belajar melukis sejak usia kanak kanak. Pada usia sembilan tahun, ia belajar kaligrafi dari Nie Phing Chong dan Xiau Pai Xin (alm), seorang kepala sekolah Tionghoa di Malang.

Ia juga otodidak belajar sastra dari ayahnya, Phe Hwie Kwan, yang mengenalkannya kepada buku-buku karya pelukis maestro China, Qi Pai She. Pengagum Handrio, H, Widayat, S. Sudjojono dan Hendra Gunawan ini memilih Yogyakarta, tempat dia menetap dan memulai pameran tunggalnya yang pertama pada 1998.

Setelah itu, beberapa kali ia mengadakan pameran di gedung WTC Jakarta (2003), Langgeng Gallery di Magelang, Jawa Tengah (2004), dan Galeri Nasional Jakarta (2005).

Sejak 1998, Sidik telah menggelar lebih dari 20 pameran tunggal dan beberapa kali pameran bersama di Galeri Nasional, Jakarta, Langgeng Gallery, Magelang, Nadi Gallery, Jakarta, dan ia mulai pameran di Cina, seperti The China Millenium Monument, Beijing, National Art Museum of China (NAMoC), Beijing, Liu Haisu Art Museum, Shanghai, Fuzhou National Gallery, Fuzhou, dan Huafu Tiandi, Shanghai.

Sidik beberapa kali mendapat penghargaan, antara lain dari karya Bunga Phoenix (media cat hitam putih) sebagai Lukisan China Mutu Terbaik dalam kompetisi seni lukis dan kaligrafi Cina sedunia di Beijing (2001) dan di Nanjing (2002).

Ia juga mendapat piagam penghormatan 10 Besar Seni Budayawan pada forum diskusi ilmiah "Masyarakat Kecil dan Makmur di Beijing" pada 2006 dari Pusat Pemuda Partai China, karena dianggap berhasil melakukan pembaharuan dalam seni budaya Cina, dan Sidik satu-satunya orang dari luar Cina.

Sidik juga diangkat sebagai peneliti pada Pusat Penelitian Seni Republik Rakyat Tiongkok di Beijing dan sebagai pengajar tamu (guest professor) di Eastern International Art College of Zhengzhou University of Light Industry pada 2007.

EVIETA FADJAR



Komentar