free stats

Menteri Susi Akan Laporkan Cina ke Pengadilan Internasional  

Senin, 21 Maret 2016 | 19:14 WIB
Menteri Susi Akan Laporkan Cina ke Pengadilan Internasional   
Detik-detik peledakan kapal MV Viking buronan Interpol Norwegia di Kawasan Cagar Alam Pasir Putih, Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat, 14 Maret 2016. Kapal yang ditangkap di perairan Indonesia ini akan dijadikan monumen setelah diledakkan. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO.COJakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengancam akan melaporkan Cina ke pengadilan internasional untuk hukum laut (The International Tribunal for the Law of the Sea ) jika tetap melakukan pencurian ikan di wilayah Indonesia. "Sebab, cepat atau lambat, masalah ini harus jelas," kata Susi saat konferensi pers di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Senin, 21 Maret 2016.

Sebelumnya, kapal Kway Fey 10078 asal Cina tertangkap sedang mencuri ikan di wilayah Indonesia, Sabtu, 19 Maret 2016. Namun Cina membantah dengan mengatakan lokasi pemancingan itu masuk wilayah penangkapan ikan tradisional (traditional fishing zone).

Penangkapan yang dilakukan tim Kementerian Kelautan dan Perikanan terjadi di posisi 05°05,866'N. 109°07, 046'E jarak 2,7 mil haluan 67°. Susi berkeras wilayah itu tidak masuk wilayah penangkapan ikan Cina. Ia bahkan mengatakan istilah traditional fishing zone yang dikatakan Cina tidak ada dalam The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

Dalam UNCLOS, yang diakui adalah traditional fishing rights. Kondisi ini hanya bisa dilakukan jika terjadi kesepakatan di antara dua negara atau lebih untuk melaksanakan traditional fishing rights. Saat ini, Indonesia hanya menjalin kesepakatan traditional fishing rights dengan negara Malaysia. Itu pun hanya untuk satu wilayah yang sudah ditentukan sebelumnya. "Klaim pemerintah Cina tak betul dan tak berdasar," ujar Susi.



Selain melanggar batas, Susi juga menuding aktivitas pencurian ikan yang dilakukan kapal Kway Fey sebagai bentuk inkonsistensi pemerintah Cina dalam mengatasi illegal, unreported, unregulated (IUU) fishing. Padahal, menurut dia, sejak November 2014, Indonesia dan Cina berkali-kali menggelar pertemuan dan menyepakati untuk memerangi IUU fishing.

Apalagi, saat proses penyitaan kapal Kway Fey, pemerintah Cina justru malah menghalangi dengan menabrakkan kapal pengawal pantainya agar Kway Fey tak bisa disita. "Dengan begitu bagusnya hubungan Cina dengan Indonesia, hubungan investasi, dan sebagainya, tak sepantasnya IUU fishing ini dibela atau diproteksi. Kan, sayang hubungan bilateral yang baik ternoda oleh IUU fishing," tutur Susi.

Susi menegaskan bahwa IUU fishing adalah masalah besar di Indonesia yang merupakan negara maritim. IUU fishing membuat penghasilan para nelayan berkurang, bahkan mereka bisa kehilangan pekerjaan.

EGI ADYATAMA



Komentar

Baca Juga