Kisah Utsman bin Talhah: Mendahulukan Cinta dari Kebencian  

Selasa, 07 Juni 2016 | 16:18 WIB
Kisah Utsman bin Talhah: Mendahulukan Cinta dari Kebencian    
Umat muslim melakukan tawaf, memutari Kabah, di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi. Halis Akyildiz/Anadolu Agency/Getty Images

TEMPO.COJakarta - Ketika Nabi berhijrah dari Mekah ke Madinah, kunci Ka'bah di Mekah dipegang Utsman bin Talhah—yang kala itu belum memeluk Islam. Kunci tersebut telah dipegang oleh keluarganya selama beberapa generasi. 

Suatu hari Nabi meminta kunci itu kepada Utsman, tapi ia menolak memberikannya dan berkata kasar kepada Nabi. Beliau mendengarkan perkataan Utsman sampai selesai, lalu Nabi berkata: "Utsman, semoga kau terus hidup sampai pada hari ketika aku memegang kunci tersebut di tanganku. Aku akan mempunyai hak untuk memberikannya kepada siapa pun yang kukehendaki."

Utsman kala itu tidak percaya dengan kerasulan Nabi Muhammad. Karena itu, dia tidak akan membuka pintu Ka’bah.

Ali bin Abi Thalib akhirnya berhasil merebut kunci Ka’bah dari tangan Utsman. Ali lalu membuka pintunya dan Rasulullah pun masuk ke dalam Ka’bah. Seiring dengan kedatangan Rasulullah, orang-orang Mekah kemudian banyak yang masuk Islam.



Ketika kunci tersebut telah benar-benar berada di tangan Nabi, Rasulullah kemudian memerintahkan Ali agar mengembalikan kunci itu kepada Utsman dan berpesan agar Ali meminta maaf karena sudah merebutnya dari tangan Utsman.

Ali pun menghadap Utsman seraya berkata, “Ya Utsman, ini kuncinya. Dan kami menyampaikan permohonan maaf karena kami salah telah merebut kunci itu darimu.” Ustman pun kaget bukan kepalang.

Ali mengatakan bahwa sudah turun ayat Al-Quran dari Allah yang memerintahkan agar kunci itu dikembalikan kepada pemiliknya. Karena itu, kunci tersebut dikembalikan kepada Utsman. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa:58).

Mendengar penjelasan Ali, Utsman bin Talhah langsung mengucapkan dua kalimat syahadat, menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasul-Nya.

Sumber: Disunting dari buku Buku Kecil Kearifan Islam - Kisah-kisah Nabi dan Para Sahabat yang Penuh Ilham dan Mencerahkan/ Maulana Wahiduddin Khan (Puslaka Alvabet, 2005)

DANNY M.



Komentar

Baca Juga

Ramadan Terpopuler