free stats

Dua Anggota Mapala UII Ditangkap, Diduga Pelaku Penganiayaan Diksar

Senin, 30 Januari 2017 | 13:42 WIB
Dua Anggota Mapala UII Ditangkap, Diduga Pelaku Penganiayaan Diksar
Polisi memeriksa bekas perapian di lokasi Diksar Mapala Universitas Islam Indonesia di Watu Lumbung, Karanganyar, 26 Januari 2017. Kegiatan Diksar Mapala UII ini berhujung tewasnya tiga peserta. TEMPO/Ahmad Rafiq

TEMPO.COBoyolali - Kepolisian Resor Karanganyar menangkap dua anggota Mapala Universitas Islam Indonesia (UII), Senin, 30 Januari 2016. Dua anggota mapala itu diduga melakukan penganiayaan saat penyelenggaraan pendidikan dasar sehingga mengakibatkan tiga peserta tewas.

"Penangkapan dilakukan subuh pagi tadi," kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Inspektur Jenderal Condro Kirono saat ditemui di Boyolali. Dua anggota mapala itu ditangkap di dua lokasi berbeda.

Tersangka Yudi ditangkap di posko mapala tersebut. Sedangkan tersangka lain, Angga, ditangkap di rumah kos.

Saat ini kedua tersangka telah dibawa ke Polres Karanganyar. Pemeriksaan terhadap anggota panitia pendidikan dasar Mapala UII yang lain rencananya tetap dilakukan pada Selasa besok.



Baca: 
Panitia Diksar Mapala UII: Materi Survival Ada SOP-nya 
3 Mahasiswa UII Tewas, Surat Pernyataan Dipersoalkan 

Sebelumnya, tiga peserta Pendidikan Dasar TGC XXXVII Mapala Unisi meninggal dunia. Mereka adalah Muhammad Fadli, 20 tahun, dari Batam; Syaits Asyam (20) dari Sleman; dan Ilham Nurpadmy Listia Adi (20) dari Lombok Timur. Ketiganya adalah mahasiswa UII angkatan 2015. Pemeriksaan di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, menemukan sejumlah luka luar dan dalam pada tubuh almarhum Asyam dan Ilham.

Ketua Panitia Pelaksana Pendidikan Dasar The Great Camping XXXVII Mapala Unisi UII Yogyakarta Wildan Nuzula mengakui ada tindakan fisik yang berlebihan oleh instruktur operasional kepada anggota baru. “Memang ada panitia yang berlebihan menerapkan hukuman,” ujar Wildan, Jumat, 27 Januari 2017.

Instruktur operasional adalah panitia yang mendampingi tiap-tiap regu peserta pendidikan dasar. Instruktur operasional pula yang memberikan hukuman apabila ada peserta yang dinilai melakukan pelanggaran.

Jenis hukuman ada tiga. Hukuman teguran secara verbal; hukuman fisik, seperti push-upsquat jump, atau jalan jongkok; serta hukuman pengurangan nilai terhadap peserta. Namun Wildan menolak membeberkan bentuk hukuman fisik yang dianggap berlebihan. “Itu sudah ranah penyelidikan polisi,” tutur Wildan. 

Sebanyak 37 peserta yang mengikuti pendidikan dasar di lereng Gunung Lawu, Desa Tlogodlingo, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu terdiri atas 34 laki-laki dan tiga perempuan. Peserta dibagi menjadi lima regu, yang masing-masing didampingi tiga instruktur operasional.

AHMAD RAFIQ

Baca: Tiga Mahasiswanya Tewas, UII Bekukan Kegiatan Mapala 






Komentar

Baca Juga