free stats

Indonesia Butuh 2,5 Juta Tenaga Pariwisata

Senin, 13 Februari 2017 | 09:34 WIB
Indonesia Butuh 2,5 Juta Tenaga Pariwisata
Presiden Joko Widodo bersama Ibu Iriana Joko Widodo didampingi Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi (kiri kedua) dan Menteri Pariwisata Arief Yahya (kiri) menggunakan pakaian adat Batak menyaksikan pelepasan Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, 21 Agustus 2016. Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba sekaligus mempromosikan potensi wisata daerah itu. ANTARA/Septianda Perdana

TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gede Pitana mengatakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 2,5 juta tenaga kerja dalam lima tahun mendatang.

"Kita membutuhkan 2,5 juta tenaga kerja. Sekitar 70 persen diantaranya untuk tingkatan pekerja vokasi," ujar Pitana di Jakarta, Senin 13 Februari 2017 seperti dikutip dari Antara.

Baca Juga: Kementerian Pariwisata Bidik Pasar ASEAN

Pitana  mengatakan pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat cepat dan sangat tinggi menyerap tenaga kerja.



Oleh karena itu, dia meminta agar sumber daya manusia untuk bidang pariwisata benar-benar disiapkan terutama sekali tenaga kerja profesional.

"Pariwisata ini adalah ilmu dan kita punya banyak tugas untuk mengembangkan ilmu ini," ungkap Pitana seraya menambahkan selama ini masih jarang pekerja profesional pariwisata yang berlatar belakang pendidikan tinggi spesifik pariwisata.

Rektor Universitas Prasetiya Mulya Djisman S Simandjuntak mengatakan pertumbuhan industri pariwisata yang semakin besar jumlahhya di dunia.

"Layanan 'leisure' ini memang dulu lebih ke arah hedonis sifatnya, bahkan cenderung ke 'sensual leisure'. Namun ada gerakan besar sekarang ini yang menjadikan pariwisata sebagai kultur," jelas Djisman.

Simak: Menteri Arief Yahya Siapkan Bali Jadi Hub Pariwisata

Djisman berpendapat pariwisata yang sekarang ini berkembang dan turut andil dalam perkembangan hidup manusia perlu terus didalami.

"Inilah yang disebut layanan eudaimonia yang bermakna spirit kebaikan. Layanan eudemonia ini semakin besar sekarang ini, yang dengan begitu membutuhkan banyak SDM andal di bidangnya," kata Djisman.

Djisman menambahkan berbagai persoalan pariwisata di Indonesia yang membutuhkan pendalaman ilmu khusus dan menyeluruh, mengingat beberapa pertanyaan di dekade silam tentang keilmuan pariwisata yang cakupannya begitu luas, dan tidak spesifik.

Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya Agus W Soeharto mengatakan pariwisata memang baru diakui sebagai ilmu yang perlu diajarkan di Indonesia pada 2008.

"Bandingkan di negara-negara maju yang sudah lama menggeluti ilmu ini dan membangun industri pariwisata mereka yang maju pesat," kata Agus.

Baca: Menko Darmin: Pengelola Pelabuhan Seharusnya Fokus ke Barang 

Menurut Agus, tren pariwisata di dunia diwarnai empat fenomena penting. Pertama, komoditasisasi lebih besar yang semakin menantang beberapa pengelola pariwisata karena ruang kegiatan yang lebih luas.

Kedua, ekonomi berbagi yang di beberapa tempat memporak-porandakan sistem pemasaran pariwisata konvensional. Ketiga, kemajuan teknologi yang memacu peningkatan dan pengembangan pariwisata, antara lain pemanfaatan "Big Data Analysis" untuk mendalami perilaku konsumen pariwisata.

Serta keempat, generasi milenial yang merupakan segmentasi pasar yang menarik.

ANTARA




Komentar

Baca Juga