free stats

Ubah Lokalisasi Jadi RTH, Wali Kota Kediri: Hapus Citra Buruk

Jum'at, 19 Mei 2017 | 23:06 WIB
Ubah Lokalisasi Jadi RTH, Wali Kota Kediri: Hapus Citra Buruk
Calon Walikota Kediri Abu Bakar. ANTARA/Rudi Mulya

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kota Kediri menyulap kawasan bekas lokalisasi Semampir menjadi ruang terbuka hijau. Upaya ini dilakukan untuk menghapus citra buruk kawasan di bantaran Sungai Brantas sebagai lokalisasi terbesar di Kediri.

“Hari ini, wajah lokalisasi sudah tidak ada,” kata Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar saat memulai penanaman bersama komunitas lingkungan di eks lahan Semampir, Jumat 19 Mei 2017.

Desember 2016, Abdullah mensterilkan kawasan Semampir dari para pekerja seks komersial berikut pengelola lokalisasi. Selama berpuluh-puluh tahun kawasan ini dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Kediri dan tak pernah bisa ditutup.

Baca: Mas Abu Tutup Lokalisasi Semampir (1), Sulit Dipisahkan  



Di lahan seluas 13.925 meter persegi yang merupakan bekas bangunan lokalisasi, mereka menanam 670 batang pohon yang terdiri dari ketapang kencana, tabe puya kuning, tabe puya putih, sepatu dea, trembesi, kigelia, dan pule. Paska penggusuran paksa oleh aparat Kepolisian, TNI, dan Satpol PP, deretan rumah-rumah itu kini menjadi lahan terbuka yang cukup luas.

Rencananya Pemerintah Kota Kediri akan menjadikan kawasan itu ruang terbuka hijau yang dilengkapi fasilitas bermain anak-anak. Hal ini sekaligus mengubah wajah lokalisasi yang sangat tampak dari jalur jalan raya di atasnya. Selama ini para pengendara selalu menoleh ke bawah badan jalan untuk sekedar melihat aktivitas PSK dari atas.

“Lokalisasi ini merusak citra Kediri karena berada di jalur lintas kota,” kata Abdullah.

Baca: Kisah Mas Abu Tutup Lokalisasi Semampir (2), Sudah Bulat  

Penghijauan di lahan bekas lokalisasi ini disambut positif warga setempat. Mereka mengaku lelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan para PSK yang merusak kehidupan sosial anak-anak. Selain itu stigma negative tentang Kelurahan Semampir cukup mengganggu anak-anak mereka saat di sekolah. Tak sedikit dari mereka yang diolok-olok sebagai anak kompleks karena tinggal di kelurahan yang sama dengan lokalisasi.

Tyara Efendy, salah satu aktivis lingkungan dari komunitas Earth Hour Kediri yang terlibat dalam penanaman tersebut berharap pemerintah bisa segera merealisasi fasilitas umum di tempat itu. Dia membayangkan kawasan bekas lokalisasi itu akan memiliki banyak infrastruktur olah raga dan wisata keluarga mengingat luasnya lahan yang ada. “Jangan hanya ditanami saja,” katanya.

HARI TRI WASONO



Komentar

Baca Juga