Lebih Enak Hidup di Zaman Soeharto? Ini Faktanya

Kamis, 16 Maret 2017 | 12:07 WIB

TEMPO.CO, Jakarta:Transparency International mendaulat Soeharto sebagai salah satu pemimpin terkorup dunia. Ia diperkirakan menguasai harta senilai US $35 milyar, atau Rp 468 triliun. Padahal PDB Indonesia ketika itu kurang dari US $700 atau sekitar Rp 9 juta per kapita.

Selama masa Orde Baru, ada proses sentralisasi, bahkan kemudian personalisasi, dengan sosok presiden kedua RI itu sebagai nukleus sentral seluruh negeri.

Mulai Pemilu 1971 hingga pertengahan tahun 70-an, jumlah partai dari puluhan diringkas menjadi dua partai dan satu golongan.

Mahasiswa yang menuntut pemberantasan korupsi pada Peristiwa Malari 1974 dihadapi dengan tangan besi. Pada 1978-1979, tantangan frontal dari mahasiswa dijawab dengan NKK/BKK-larangan berpolitik bagi para mahasiswa di kampus.

Kebebasan pers juga dikungkung dengan mewajibkan media memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers. Media yang dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dibredel.

KontraS menyatakan ada 10 pelanggaran HAM berat yang diduga dilakukan Soeharto. Jumlah korban meninggal, hilang, luka-luka, ditahan secara sewenang-wenang, disiksa dan mengalami kekerasan seksual lebih dari 1,6 juta orang.

Pada 1980-an, sentralisasi kekuasaan melebar ke putra-putrinya. Lewat keenam anak Soeharto, imperium bisnis Keluarga Cendana menjalar di 18 sektor, mulai dari pertambangan hingga media. Jumlah perusahaan keluarga Cendana diperkirakan lebih dari 1000, setidaknya tersebar pada 20 konglomerat.


Produser: Sadika Hamid
Editor: Andy
Periset foto: Mahanizar Djohan

Komentar